وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada pembantunya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun". (QS. Al-Kahfi: 60).
Belajar menjadi sebuah kewajiban kepada setiap muslim dan muslimah. Allah memerintahkan kita untuk belajar, menjauhi kebodohan, sebab kebodohan dekat dengan kekufuran. Allah Sang Maha Guru telah mengisahkan dalam kitab-Nya contoh pembelajar yang teguh dalam belajarnya. Dialah Nabi Musa. Utusan Allah yang mendapat julukan al-kalim “yang diajak bicara Allah”.
Ayat di atas mengabarkan kepada kita betapa teguhnya Nabi Musa dalam menuntut ilmu kepada gurunya, Nabi Khidir. Harus kita yakini bersama bahwa kisah yang dituangkan dalam Al-Quran bukanlah kisah biasa–kisah terbaik yang di dalamnya mengandung pelajaran penting bagi orang yang berfikir.
Dimulai dari kisah Bani Israil yang kagum dengan keilmuan dan kepandaian Nabi Musa yang kemudian bertanya, “Wahai Nabi Allah, adakah di bumi ini manusia yang lebih pandai darimu?” Nabi Musa menjawab, “Tidak ada”. Sebenarnya Nabi Musa tidak salah ketika menjawab tidak ada, sebab ia adalah satu-satunya utusan Allah dan ia pula adalah nabi yang paling sering berbicara dengan Allah secara langsung. Tapi Allah segera menegur beliau dan mengabarkan bahwa masih ada seorang hamba-Nya yang ilmunya lebih luas dari Nabi Musa, dialah Nabi Khidir–dan Nabi Musa bisa menjumpainya di daerah pertemuan dua laut.
Keteguhan Nabi Musa dalam menuntut ilmu membuatnya berangkat untuk berguru kepada
Nabi Khidir. Ayat di atas mengajarkan pada kita bahwa orang yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan haruslah keluar dari tempatnya dan mencari di mana sang guru berada bukan sebaliknya. Nabi Musa rela melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu dan merasakan keletihan.
Setiap ayat Al-Quran yang didalamnya ada kata اذ – mengingat – kita selain diperintahkan mengingat kisah dan peristiwa yang terjadi, tapi kita juga harus belajar dari kisah terjadi. فتى dalam Bahasa Arab berarti pemuda, namun bila mendapat imbuhan ك ي ه berubah menjadi pembantu. Dalam sejarahnya, kala itu Nabi Musa mengajak Yusya bin Nun. Allah dalam ayat-Nya menyebut Yusya bin Nun sebagai pembantu, padahal Yusya bin Nun masih ada hubungan kekerabatan, yang sama-sama keturunan Nabi Ya’kub. Yusya bin Nun bin Afrahim bin Yusuf bin Ya’kub. Sedangkan Nabi Musa adalah keturunan dari saudara Nabi Yusuf. Akan tetapi Allah menyebutnya pembantu karena Yusya adalah murid Nabi Musa. Itu artinya seorang murid hendaknya berkhidmat kepada gurunya seperti seorang pembantu berkhidmat kepada majikannya. Tidak berlebihan bila Ali bin Abi Thalib mengatakan aku siap menjadi budak siapapun yang mengajariku satu huruf.
Semangat Nabi Musa dalam menuntut ilmu, ia tidak akan pulang sampai bertemu dengan gurunya. Kenyataannya dengan zaman sekarang justru lebih senang ketika guru tidak masuk pelajaran. Yahya bin Abi Katsir berkata:
ولايستطاع العلم براحة الجسد
“Ilmu tidak akan di dapat dengan tubuh yang sering istirahat (santai-santai)”
Sikap seorang mukmin dalam menuntut ilmu mestinya sungguh-sungguh. Jika tidak, maka bukan ilmu yang didapat justru hidup sia-sia seperti mayat hidup. Tak bermanfaat bagi sesama. Nabi Yahya sebelum baligh sudah hafal kitab Taurat dan Allah berkatanya kepadanya:
يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
“Ya Yahya ambillah kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS. Maryam: 12)
Pelajarilah ilmu dengan sungguh-sungguh. Jangan terperdaya dengan segala fasilitas yang lengkap yang justru menjadikan malas dalam menuntut ilmu. Imam Syafii berkata barang siapa yang tidak pernah merasakan lelahnya belajar maka akan meneguk pahitnya kebodohan seumur hidupnya.
Jangan terperdaya dengan tempat yang baik dan lingkungan yang baik, karena Adam justru terperdaya di tempat terbaik; surga. Jangan terperdaya karena banyaknya ibadahmu, karena iblis yang sekian lama jadi ahli ibadah justru berujung laknat Allah kepadanya. Jangan terperdaya karena banyaknya ilmu yang dimiliki, karena sesungguhnya Bal’am bin Baurah ternyata matinya suul khotimah.
Tak peduli apapun yang akan terjadi, teguhlah seperti Nabi Musa, teruslah berjalan hingga mencapai apa yang engkau cita-citakan. Atau berusahalah agar saat kematian tiba engkau tetap berada di atas jalan meraihnya